Datangnya gerhana matahari total 11 Juni 1983 lebih banyak menimbulkan
kegemparan dan ketakutan bagi masyarakat di Pulau Jawa. Penyebabnya,
sebagian penduduk Jawa ketika itu masih mempercayai mitos seputar
gerhana.
Ketika itu Sumarsono, seorang penarik becak di Semarang,
asal Desa Ngelo Kecamatan Ngelo Kabupaten Demak, Jawa Tengah, masih
percaya gerhana adalah matahari yang dimakan Batara Kala. Menurut dia,
orang harus menggagalkan upaya Kala dengan cara menabuh alat bebunyian
seperti kentongan, kaleng kosong, perkakas dapur, dan lesung.
Tanaman
juga harus diselamatkan. Pohon-pohon buah seperti pohon mangga dan
kelapa harus dipukul batangnya agar terhindar dari serangan Batara Kala.
Tanaman sawah, lanjut dia, seperti padi, jagung, ketela, dan palawija
lainnya ditolong dengan cara disirami air.
Saat gerhana,
Sumarsono pulang ke kampung halamannya demi menyelamatkan sepetak sawah
miliknya dan tanaman di rumahnya. "Saya akan pulang menyelamatkan
tanaman, sebab bila tidak berarti sumber sandang, pangan bagi istri dan
anak akan habis," katanya seperti dilansir Kedaulatan Rakyat terbitan 3
Juni 1983.
Sumarsono mengatakan, ternak juga harus dibangunkan
agar selamat dengan cara dicambuki menggunakan dahan pohon. Saat gerhana
matahari total, beberapa hewan memang tertipu akan gelapnya suasana dan
tidur karena mengira sudah malam.
Selain cerita Sumarsono tadi,
banyak media juga memberitakan ketakutan perempuan hamil terhadap
gerhana. Ada keyakinan Batara Kala juga mengincar perempuan hamil
sehingga harus bersembunyi.
Sumber. detik.com

0 Komentar untuk "Mitos yang Gegerkan Masyarakat Jawa Takut Gerhana 1983"
Post a Comment